AWAS! Tenggelam dalam Inovasi Teknologi

“(Singing) Awal ‘kan berakhir, Terbit ‘kan tenggelam, Pasang akan surut bertemu akan berpisah. Hey, sampai jumpa di lain hari, Untuk kita bertemu lagi, Kurelakan dirimu pergi, Meskipun ku tak siap untuk merindu, Ku tak siap tanpa dirimu, Kuharap terbaik untukmu.” Meskipun berawal dari nada mayor namun suasana lagu ini bernuansa sendu. Perpaduan denting gitar dengan alunan biolanya membuat suasana semakin megis di telinga pendengar. Lagu yang dirilis pada tahun 2015 oleh Endank Soekamti ini kerap dicover oleh berbagai band saat acara pensi atau perpisahan SMA.

Namun siapa sangka, kali ini alunan lagu berjudul Sampai Jumpa mengiringi keberangkatan lima puluh tiga anggota TNI AL untuk bertugas menjaga lautan NKRI selamanya. Beredar viral photo dan video kebersamaan mereka menjelang keberangkatan. Mulai dari sholat berjamaah diatas kapal hingga bernyanyi bersama. Sayangnya kapal ini lepas kontak dari darat selama tiga hari hingga akhirnya Kapal selam Nanggala 204 dinyatakan tenggelam.

Bicara soal tenggelam, menurut KBBI diartikan sebagai kata kerja dan kiasan. Sebagai kata kerja berarti terbenam, karam, atau masuk kedasar air. Sedangkan sebagai kiasan dapat berarti jatuh dalam kesusahan, hilang, atau asyik. Apabila dikaitkan dengan teknologi informasi, betapa banyak orang tenggelam dalam lautan informasi.

Saya atau Anda bisa saja tenggelam dalam lautan informasi. Bagi kita yang menggunakan akal pikiran, segala arus informasi dapat dimanfaatkan untuk mendukung keputusan. Namun sebaliknya, jika tidak berhati-hati lautan informasi justru dapat menghancurkan produktifitas atau membelokkan tujuan hidup.

Misalnya kita membuka aplikasi Instagram. Meskipun mengikuti seribu akun, tapi tidak semua postingannya muncul pada timeline kita. Apa yang saya lihat pada halaman explore, berbeda dengan konten yang muncul pada halaman explore milik Anda. Instagram memiliki mekanisme khusus memilihkan konten sesuai selera kita. Begitu pula yang terjadi dengan Youtube, Tiktok, Spotify dan aplikasi lainnya.

Mekanisme pemilihan konten ini secara teknis keilmuwan dibingkai dalam topik sistem rekomendasi. Dalam disiplin ilmu lain, teknologi dirancang sedemikian rupa sehingga penggunanya betah berlama-lama hingga muncul berbagai macam perasaan bahagia, sedih, semangat. Berbagai topik keilmuan ini sangat memungkinkan apabila dipadukan satu sama lain dalam satu platform aplikasi. Sehingga kelak aplikasi ini akan bersifat dopamine.

Contohnya paling nyata adalah tombol like pada Instagram dan TikTok. Tombol clap pada medium, atau tombol dislike pada Youtube. Bagi produser konten, reward-reward ini memberikan dampak emosi yang berbeda. Menang-kalah dalam permainan dunia maya juga memiliki dampak emosional sendiri. Konten berita atau artikel yang disuguhkan bertubi-tubipun berdampak signifikan terhadap cara pengambilan keputusan seseorang. Memang belum ditemukan penelitan ilmiah terkait hal ini, namun kita dapat merasakan semua fenomena ini dalam kehidupan sehari-hari.

Begitupula fungsi fitur notifikasi. Awalnya fitur ini dirancang untuk mengingatkan kita atas suatu hal yang dianggap penting. Sekarang meskipun notifikasi dinonaktifkanpun setiap saat orang akan menengok handphonenya masing-masing. Alih-alih kita yang mengendalikan teknologi, sebaliknya justru kita dikendalikan oleh derasnya arus informasi dan inovasi teknologi.

Beruntunglah bagi kita yang lahir pada era 90an karena masih sempat merasakan kondisi dimana tanpa gawai-pun kita masih bisa bahagia. Tetap bisa produktif tanpa teknologi. Lain halnya dengan generasi Z yang lahir pada tahun 2000an bersamaan dengan munculnya berbagai macam inovasi teknologi. Bila Anda menyadari akan fenomena ini, tugas kita adalah membantu generasi Z untuk berkontribusi dalam inovasi namun tidak tenggelam didalamnya. Melalui kuliah, mimbar seminar, perkumpulan karang taruna atau wadah lainnya.

Coding | Writing | Sharing. Co-founder Hepicar. IG www.instagram.com/akbarul.huda

Coding | Writing | Sharing. Co-founder Hepicar. IG www.instagram.com/akbarul.huda