Bagaimana Masyarakat dalam Menyikapi Transformasi Digital ?

Mengapa seolah-olah teknologi digital lebih unggul sehingga dinarasikan ada masyarakat tertentu yang tidak siap menerima perubahan? Pertanyaan ini dilontarkan oleh mahasiswa dalam rangka mengkaji perilaku masyaraka terhadap transformasi digital. Pandanganya kritis, tidak berhasil masuk kedalam framing yang saya suguhkan.

“Software is eating the world”, tanpa disadari kita tidak lepas dari software mulai dari bangun tidur, beraktifitas siang hari hingga mau tidur lagi. Peserta tampak menganggukan kepala melalui layar kaca, tanda membenarkan pernyataan ini. Pertemuan tersebut saya buka dengan quote dari Marc Andreessen yang ditulis pada Wall Street Journal sepuluh tahun yang lalu.

Satu persatu saya paparkan transformasi digital yang terjadi pada berbagai sektor. Seperti sektor kuliner, pertanian, otomotif, jual-beli kebutuhan sehari-hari, olahraga, hiburan dan sektor lainnya. Dalam forum tersebut, mahasiswa jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Budaya UGM saya beri kesempatan untuk mengkaji dari sudut pandang dampak perilaku masyarakat sesuai dengan bidang keilmuan yang sedang mereka ambil.

Restoku sebagai salah satu produk digital yang pertama saya perkenalkan dalam forum karena kebetulan saya mendampingi perjalanan bisnisnya melalui ABP Startup Inkubator. Produk ini telah berhasil membantu lebih dari 20 ribu UMKM restoran di seluruh Indonesia. Melalui smartphone, pemilik restoran dapat melakukan berbagai optimasi bisnis kulinernya mulai dari kebutuhan dapur, sumber daya manusia hingga transaksi pembelian dari pelanggan.

Inovasi digital berikutnya yang saya ulas adalah Simonkori. Sebuah alat berteknologi Internet of Thing, untuk otomatisasi nutrisi pada tanaman hidroponik. Saat mendampingi perjalanan bisnisnya, Simonkori telah digunakan lebih dari lima green house skala besar tersebar di pulau Jawa. Produk ini menjadi saksi terjadinya transformasi digital pada sektor pertanian.

Ada juga Hepicar untuk mewadahi transformasi digital pada sektor bengkel otomotif dan Frogs “Taxi Terbang” sebagai representasi dari pergeseran teknologi human mobilitas. Bila kita flashback berabad-abad yang lalu saat perpindahan manusia dengan tenaga hewan, mereka tidak akan pernah menyangka sebuah besi kotak bisa menempuh perjalanan jauh. Hal ini barangkali juga tidak masuk dalam akal kita, kelak setiap rumah cucu kita memiliki mobil terbang pribadi.

Dari sekian produk digital yang saya paparkan, masing-masing memliki tantangan berbeda dalam melakukan penetrasi pasar. Ada beberapa karakter masyarakat yang cenderung enggan mengadopsi teknologi digital. Para peserta nampak larut menyimak contoh demi contoh yang saya sajikan.

Diskusi semakin menari taktala saya tampilkan berbagai transformasi digital dalam sektor pemerintahan. Berbagai pelayanan publik, ekonomi dan perbankan dikemas dengan teknologi ditial. Selain perbankan digital, pemerintah Indonesia sedang fokus mengkaji dan penyiapan infrastruktur Rupiah Digital. Uang elektronik berbeda dengan Rupiah Digital. Saat ini yang kita jumpai melalui aplikasi mobile banking, OVO, Gopay adalah uang elektronik. Pihak penyedia layanan uang elektornik harus memiliki jaminan cash yang bisa ditunaikan. Namun rupiah digital akan dirilis secara resmi tanpa fisik kertas ataupun koin oleh Bank Indonesia.

Forum berjalan sangat interaktif. Berbagai gagasan muncul dan disampaikan dengan penuh tanggung jawab. Teknologi digital dan bisnis yang selalu digaungkan dalam berbagai kesempatan, apakah hidup hanya untuk itu saja? Sebagai penyataan penutup, saya menyampaikan satu hal. Memang betul, hidup tidak selalu berurusan dengan teknologi namun apakah Kamu siap hidup tanpa teknologi?

Coding | Writing | Sharing. Co-founder Hepicar. IG www.instagram.com/akbarul.huda

Coding | Writing | Sharing. Co-founder Hepicar. IG www.instagram.com/akbarul.huda