Begini Cara Memaknai Hidup, Belajar dari RAM

“Maaf, laptopnya lemot” ucap siswa pada waktu presentasi secara daring. Supaya tidak menyiakan waktu barang sedetikpun, saya coba menganalisa apa yang terjadi. Mungkin hardisknya penuh, akibatnya proses read and write yang dilakukan secara bersamaan oleh berbagai macam aplikasi kecepatannya melambat. Ibarat kata, seharunsya bisa dilakukan pada kecepatan 500 MB/s, menurun drastis hingga 100 MB/s.

Kemungkinan kedua, RAMnya terbatas. RAM merupakan salah satu komponen komputer yang memiliki performa kecapatan paling tinggi. Berbeda dengan disk, RAM dapat menyimpan data selama ada listrik. Apabila listrik dicabut maka data-data yang tadinya tersimpan akan hilang. Dalam dunia programming, kemampuan menyimpan data sementara dikenal dengan istilah non-volatile sedangkan kepanjangan RAM adalah Random Access Memory.

Bicara mengenai RAM, sebenarnya barang ini tidak canggih sama sekali. Barang ini tidak bisa ngapa-ngapain. RAM bisa juga dianalogikan sebagai kanvas putih kosong yang bisa digambar dengan berbagai macam kreatifitas oleh pelukis. Seandainya seorang programmer sedikit memanipulasinya supaya bisa mengerjakan kalkulasi kurs rupiah-dollar, maka RAM hanya bisa mengerjakan instruksi itu saja. Tidak lebih, tidak kurang. Artinya, potensinya melakukan sesuatu yang banyak kini terbatasi hanya bisa melakukan hal spesifik saja. Semakin spesifik instruksi yang diberikan, justru semakin banyak pula hal-hal diluar instruksi yang tidak mungkin dikerjakan.

Dua puluh detik berlalu, siswa belum juga memulai presentasinya. “Sebentar lagi masih loading, Pak!”, terdengar samar penjelasannya yang menegaskan bahwa mudah-mudahan sebentar lagi selesai. Pikiran saya masih bergerilya meng-eksplorasi RAM. Biasanya, RAM yang tertanam pada laptop saya gunakan untuk menonton Wayang. Mendengarkan pesan-pesan bijaksana yang dikemas secara jenaka pada sesi Ponokawan. Dikomando oleh Semar, ketiga anaknya secara bergantian Gareng, Petruk dan Bagong saling berkelakar menertawakan dunia.

Semar sebenarnya sakti, berada pada maqom dewa namun dia memilih untuk meninggalkan semuanya menjadi rakyat jelata sebagai pembantu. Tentu menjadi impian banyak orang memiliki sikap bijaksana, berfikir panjang, menakar antara manfaat dan kerugian seperti Semar. Sayangnya tidak semua orang memiliki watak Semar ini. Justru lebih sering kita curiga dan was-was atas segala sesuatu mirip seperti Gareng. Namun pada moment tertentu kita santuy terhadap suatu peristiwa, seperti Petruk. Dan satu karakter ini juga tidak dimiliki banyak orang yakni bercanda tingkat tinggi, berani, apa adanya, polos namun cerdas. Masing-masing tokoh ini berkarakter kuat namun tunggal, hidup rukun tidak silau terhadap jabatan dan gemerlapnya dunia.

Memang nampaknya tidak berhubungan namun RAM dan wayang mengandung pesan filosofi dan inspirasi. Seperti halnya RAM yang berkemampuan terbatas, manusia pada dasarnya tidak berdaya atas segala sesuatu kecuali atas izin Tuhan. Bahkan semakin mendalami sepsifik bidang keilmuan, bukannya semakin mengetahui banyak hal melainkan justru semakin tidak menguasai lebih banyak hal lainnya. Supaya kehidupan bisa terus berlangsung, hal-hal yang tidak dikuasai cukup diwakilkan kepada pihak lain, yang penting percaya.

Dalam jagad pakeliran, laku wayang bergantung pada sang Dhalang. Wayang yang jauh dari jangkauan dalang, tentu tidak akan digerakkan. Begitupula manusia dalam menjalani hidup, harus dekat dengan Tuhan supaya setiap detik yang terlewati tidak lepas dari campur tangan Tuhan. Begitulah cara kerja iman, terhadap segala sesuatau yang diluar jangkauan manusia, percayakan pada Tuhan. Tugas manusia hanya menjalani laku hidup sesuai perintah Tuhan.

“Alhamdulillah Pak, loading sudah selesai, saya izin memulai. Assalamualiakum Warahmatullahi Wabarokatuh”, ekplorasi RAM dan Wayang dalam lamunan saya berakhir seiring dimulainya presentasi siswa.

nb : tulisan ini telah dimuat pada harian Kedaulatan Rakyat pada Kamis 12 November 2020. Berikut tautannya.

Coding | Writing | Sharing. Co-founder Hepicar. IG www.instagram.com/akbarul.huda

Coding | Writing | Sharing. Co-founder Hepicar. IG www.instagram.com/akbarul.huda