Cuci Mobil Dosen Plus-Plus

lebih tepatnya kegiatan cuci otak dosen.

Jumat pagi itu saya mencuci sendiri mobil yang umurnya lebih tua dari saya. Sembari merenungi kembali kegiatan yang saya lalui satu minggu tersebut. Mungkin posisi saya seperti mobil ini. Dicuci. Lebih tepatnya dicuci otaknya.

Pertama operasi cuci otak dilakukan oleh Prof. Romi Satrio Wahono.

Secara garis besar, Prof Romi menelanjangi habis-habisan kurikulum bidang Software Engineering. Bicara kontribusi riset pada bidang ini, seharusnya bukan sekedar membangun aplikasi. Bukan membuat program software. Melainkan kontribusi berupa perbaikan metodologi pengembangan software.

Seperti apa detailnya metodologi pengembangan software?

Prof Romi men- dengan cerita tentang . Pada tahun 1999, Martin Fowler menulis buku tentang . Tentunya pada era itu, merupakan hal yang asing bagi kebanyakan orang. Mungkin juga IDE waktu itu belum dilengkapi fitur refactoring seperti kebanyakan IDE saat ini. Kira-kira baru 5–10 tahun kemudian sebagian besar IDE menambahkan fungsi refactor sebagai fitur standar.

Tiba-tiba saja otak saya terasa kesetrum. Saya berusaha mengingat kembali buku yang ditulis oleh Eric Evan pada tahun 2004. Saya mengenal buku ini tahun 2015 dan sampai saat artikel ini di saya masih menjadikan buku ini sebagai referensi utama.

Kemudian ingatan saya langsung berpindah pada buku Design Pattern. Konsep design pattern dikenalkan oleh Gang of Four : Erich Gamma, Richard Helm, Ralph Johnson, dan John Vlissides pada tahun 1994. Prinsip-prinsip ini seolah menjadi legenda dan terus melegenda sampai menjadi hangat kembali di era tahun 2015an hingga sekarang. Seiring dengan tumbuhnya trend pengembangan software secara collaborative.

Temuan-temuan diatas merupakan kontribusi nyata di bidang metodologi pengembangan software. Bersifat principle dan (hampir kebanyakan orang) baru tersadar tentang temuan tersebut setelah sekian puluh tahun kemudian.

Taklupa Prof Romi memamerkan hasil riset PhD nya mengenai topik software deffect prediction. Prof Romi meyakini dan saya meng-amin-kan (berdasarkan pola temuan yang saya uraikan diatas) bahwa 5–10 tahun yang akan datang, IDE akan dilengkapi dengan sebuah tools yang berperan dapat melakukan prediksi cacat software atau bug.

Riset dan analogi bangunan

Satu hal yang paling saya ingat mengenai riset, paparan dari Prof Romi. Riset bisa dianalogikan seperti sebuah bagunan yang terdiri atas pondasi, tiang dan atap. Kita mulai dari jenjang paling rapuh : Atap. Kebanyakan di Indonesia, riset hanya menyentuh pada jenjang atap. “Rancang bangun sistem informasi XYZ menggunakan PHP dan MySQL pada perusahaan ABC”. Saya yakin Anda tersenyum membaca pola judul penelitian seperti diatas. Berapa banyak pola tersebut muncul di Indonesia? Banyak. Sangat Banyak. Banyaknya minta ampun. hehehe.. Adakah nilai kontribusinya terhadap disiplin ilmu software engineering? Tidak. Semua adalah terapan.

Jenjang riset berikutnya adalah tiang. Pada tingkat ini biasanya berupa modifikasi-modifikasi atau perbaikan-perbaikan sebuah Algoritma. Misalnya diketahui algoritma XYZ terdiri atas 3 variabel untuk mendeteksi wajah ditemukan oleh Parjono. Maka riset yang dilakukan Tukijo adalah memodifikasi algoritma XYZ (misal) dengan menambahkan variabel baru atau mengganti salah satu variabel dengan varabel lainnya. Tujuannya jelas. Dalam rangka memperbaiki Algoritma.

Jenjang riset berikutnya (yang paling sulit) : Pondasi. Kenapa sulit? karena kontribusinya berupa hal baru. Kita tahu bahwa Karl Pearson adalah penemu algoritma Pearson Correlation. Algoritma ini dijadikan rujukan oleh jutaan peneliti dari jenjang tiang hingga atap. Apa yang terjadi apabila 25 tahun kemudian ada penemuan bahwa algoritma Perason Correlation terbukti gagal? Runtuhlah semua penelitian yang berbasis algoritma Pearson Correlation mulai dari jenjang tiang hingga atap. Runtuh. Geger. Bubar. Gugur. Roboh!. Pada jenjang (pondasi) inilah sebagian besar researcher negara maju bermain. Pada jenjang (pondasi) ini pula publikasi riset-risetnya mendominasi jurnal Q1.

Cuci otak oleh Mas Dyan Galih dan Mas Muqorrobien.

Dyan Galih Gamatechno dan Muqorobien Ansvia

Peristiwa cuci otak berikutnya berlangsung pada acara brainstorming dosen rumpun pemrograman. Intinya Kami menyadari perlu adanya perbaikan kurikulum. Nah acara ini sengaja memanggil narasumber lokal praktisi pengembangan software. Kami menyimak dengan seksama bagaimana proses pengembangan software dilakukan di tempat narasumber bekerja.

Secara halus, kurikulum pemrograman kembali ditelanjangi tanpa ampun dari perspektif industri. Slide demi slide disajikan dengan . Berbagai teknologi modern diperkenalkan kepada Kami, mulai dari Progressive Web App (PWA), Git, Microservices, HMVC architechture, Scala, NodeJS, ScalaJS, Less, AI, Deep Learning, Continues Integration dan banyak lagi. Teknologi-teknologi yang tidak mungkin terjangkau oleh kurikulum akademik. Sementara itu kegiatan belajar-mengajar masih berkutat pada kurikulum yang dikembangkan sebelum jamannya google (pra-google-era). artikel sebelumnya : Kurikulum pra-google-era.

Salah satu karakter yang bisa saya ambil dari dua narasumber adalah konsistensi seorang praktisi untuk terus belajar dan menciptakan hal baru. Selain itu juga kesediaanya untuk bersama-sama melakukan share knowladge.

Operasi cuci otak berikutnya oleh Bang Jack (Tunanetra, bukan nama sebenarnya)

gablind merupakan salah satu produk startup asal incubator Amikom Buzzines Park

Gusti Alloh mempertemukan saya dengan Bang Jack melalui SOP administratif yang tidak normal. Dua hari setelah operasi cuci otak dari Prof Romi, Balai Produksi Media Radio (BPMRP) Yogyakarta menggelar workshop bertema perancangan model media audio untuk pembelajaran tunanetra. Semestinya BPMRP mengundang mas Donni sebagai narasumber, namun karena ada kepentingan yang mendesak akhirnya saya dikirim menggantikan.

Intinya BPMRP memiliki koleksi audio pembelajaran yang harus dikemas ulang supaya bisa lebih efektif digunakan oleh Tunanetra. Baiklah, saya sama sekali belum pernah berinteraksi dengan Tunanetra dan dalam waktu singkat saya harus menyiapkan materi. Akhirnya materi presentasi berhasil saya selesaikan 3 jam sebelum acara dimulai. Lihat materi presentasi saya di slideshare.

Ternyata saya juga buta. Buta informasi, ilmu dan pengalaman. Pengetahuan saya sangat terbatas. Setelah berdiskusi secara langsung dengan Bang Jack, saya baru paham teknologi seperti apa yang sebenarnya mereka inginkan. Saya melihat mereka cenderung lebih nyaman dengan teknologi fisik (button yang bisa dipencet) daripada teknologi touchscreen. Baiklah maka untuk memenuhi kebutuhan mereka, sepertinya saya harus banyak belajar memanfaatkan respberry-pi dan modul-modul pendukungnya. Bismilllah, semoga rancangan produk bisa terwujud atas Izin Alloh. Semua usulan yang saya presentasikan harus di kemas ulang menggunakan hardware : raspberry pi.

Summary

Terimakasih Gusti Alloh, dalam seminggu ini saya dicerahkan banyak hal melalui berbagai kegiatan. Betul-betul disadarkan bahwasannya diatas langit masih ada langit. Semakin belajar banyak hal, semakin berasa bodoh.

Apabila tulisan ini dirasa bermanfaat, silakan share sebanyak-banyaknya.

Coding | Writing | Sharing. Co-founder Hepicar. IG www.instagram.com/akbarul.huda

Coding | Writing | Sharing. Co-founder Hepicar. IG www.instagram.com/akbarul.huda