Dua Inovasi Canggih ini, Memperbaiki kualitas Video Call

Halo Students, Ikan Teri dikejar Ikan Tuna. Jangan lupa online hari ini ada tatap muka! See u..”. Tiga puluh menit berjalan dari waktu yang disepakati, saya sabar menanti. Kelas online belum juga dimulai. Tak mengapa, karena dalam waktu singkat saya bisa menyelami dan berkesan dengan dua teknologi canggih ini.

Namanya Krisp, aplikasi penghilang noise berlatar belakang teknologi Artificial Intelligent (AI). Sebuah inovasi tepat guna nan canggih, untuk memperbaiki kualitas suara saat video call. Waktu itu, sebenarnya hampir saja saya merogoh kocek untuk merombak tata ruang kerja karena cenderung berisik dan bergema. Satu-satunya solusi yang saya ketahui hanya satu, melakukan treatment ruangan dengan peredam suara. Beruntung, teman sejawat memberi saran untuk coba terlebih dahulu aplikasi Krisp, gratis.

Naluri re-engineering saya kembali muncul, menyelidiki teknologi dibalik layarnya. Setidaknya saya harus mengerti how it works. Lebih dari 20 ribu cuplikan noise serta 50 ribu cuplikan speaker, dipadu dengan bumbu rahasia berbasis Deep Neural Network, berhasil membuat suara saya jauh lebih jelas terdengar saat video call. Suara deru kipas angin, suara hujan, tangisan anak, kebisingan café dan berbagai macam jenis bising hilang tanpa bekas. Hanya suara saya saja yang lolos dikenali sebagai speaker. Lebih keren lagi, performa aplikasi ini tidak menyedot banyak bandwith dan RAM, sungguh sangat memukau.

“Kita tunggu sampai 5 orang lagi bergabung, kelas baru kita mulai, ya…”. Masih sabar menanti, kali ini saya kaget dengan fitur baru yang disematkan pada Google Meet yakni efek blur pada background. Artinya, hanya muka dan badan kita saja yang tampak tajam, selain itu blur. Sayangnya fitur ini belum bisa dinikmati bagi pengguna browser Safari. Teknologi yang diterapkan tidak jauh dari topik Video and Image Processing. Cara kerjanya terlihat sederhana, aplikasi google meet dapat mengenali obyek orang yang tertangkap kamera. Tentu saja hal ini dapat dilakukan dengan penerapan algoritma AI yang sudah dioptimasi. Selain obyek orang, misalnya kursi, tembok, lemari, dan buku akan diolah dengan algoritma khusus sehingga menghasilkan efek blur. Lagi-lagi, sebuah inovasi sederhana namun tepat guna apalagi ditengah pandemi. Momentumnya sangat tepat. Sebagaimana tren diseluruh dunia, kebanyakan orang mulai terbiasa berkomunikasi melalui video call.

“Alhamdulillah, sudah banyak yang bergabung. Selamat berjumpa Kembali dengan saya dalam kelas online, mohon camera dinyalakan”. Sesi kelas online dimulai dan saya berusaha menyampaikan materi sesederhana dan sesingkat mungkin, memadukan berbagai literasi dan experience. Ternyata, meskipun sudah open camera, tidak sedikit yang sambil nge-game atau beraktifitas lain didepan laptop masing-masing.

Tiba-tiba saja teringat pesan Sudjiwo Tedjo dalam sebuah forum, yang mencuplik sila ke-2 kemanusiaan yang adil dan beradab. Sebagai manusia beradab, mestinya saling menghargai terhadap lawan bicara. Dalam konteks belajar online, Open camera mestinya dimaknai sebagai cara kita menghargai lawan bicara, bukan peraturan yang ada sanksi bagi pelanggarnya. Jika kesempatan online saja sambil mengabaikan forum, maka mungkin Pancasila memang benar-benar sudah luntur. Sungguh merupakan moment yang sangat menantang, menjaga sanad keilmuan ditengah berbagai kesenjangan. Semoga Allah memudahkan segala urusan. Amiin.

catatan : tulisan ini telah dimuat pada harian Tribun Jogja, 28 Oktober 2020, dapat dilihat pada tautan berikut.

Coding | Writing | Sharing. Co-founder Hepicar. IG www.instagram.com/akbarul.huda

Coding | Writing | Sharing. Co-founder Hepicar. IG www.instagram.com/akbarul.huda