Indonesia Darurat Programmer (Tanggapan Mahasiswa Informatika)

Cakupan ilmu informatika (khusunya programming) itu luas, berkembangnya cepat namun wadahnya (kurikulum) terlalu kecil.

Belajar Rekayasa Perangkat Lunak agak anti-mainstream, aktifitas progress-Report sebagai terapan methodology Scrum diawali dengan storry telling.

Diskusi ini terjadi secara spontan pada mata kuliah Rekayasa Perangkat Lunak. Biasanya kami melakukan progress report atas project yang sedang dikerjakan, sambil belajar menerapkan prinsip-prinsip methodologi scrum. Progress report ini mengadopsi standing meeting untuk menyampaikan “apa yang dikerjakan kemarin, apa kendalanya, bagaimana solusinya dan apa yang akan dilakukan hari ini”. Namun pada siang itu sengaja saya angkat isu mengenai berita Indonesia Darurat Programmer.

Diskusi ringan ini berlepas diri dari Kurikulum Ilmu Komputer yang sudah dirancang sempurna oleh APTIKOM (meskipun banyak kekurangan namun harus dianggap sebagai kelebihan). Sebagai moderator diskusi, saya melempar pertanyaan pertama “Bagaimana sih menurut Anda, profil lulusan jurusan informatika yang ideal (mencakup aspek skill, knowladge dan attitude) ?”. Tentunya saya membatasi diskusi dengan konteks “informatika-programming” dan ruang lingkup perguruan tinggi se-Indonesia.

Sejumlah 48 mahasiswa yang hadir dibagi dalam enam kelompok menyampaikan pendapatnya. Dari sekian banyak jawaban, setidaknya ada tiga poin yang saya garis bawahi yaitu ketrampilan yang dimiliki selaras dengan kebutuhan industri, memiliki pengetahuan bisnis di bidang IT dan profesional. Tentunya ketiga poin ini apabila diproduksi oleh SMK maupun perguruan tinggi se-Indonesia maka sumber daya programmer akan melimpah ruah. Prediksi bahwa Indonesia akan menjadi pusat startup IT dalam lima tahun yang akan datang seperti yang digadang-gadang oleh Venture Capital akan terwujud dalam waktu lebih cepat.

Salah satu kegiatan diskusi dalam matakuliah Rekayasa Perangkat Lunak

Sayangnya pertanyaan saya “apakah ekspektasi ini bisa Anda dapatkan di Kampus?” mayoritas jawabannya cenderung mengatakan tidak.

Faktanya Indonesia sedang darurat programmer. Berita yang sedang booming (setidaknya di linimasa saya) ini berasal dari portal resmi Kominfo yang sebenarnya adalah re-post dari CNN pada bulan Juli 2017. Berita ini saya jadikan bahan diskusi berikutnya. Mari kita uraikan, “Menurut Anda, apa penyebab Indonesia kekurangan Programmer?”.

Beragam jawaban dilontarkan, namun ada dua hal yang menarik bagi saya untuk dieksplorasi lebih jauh. Pertama, mindset bahwa programming itu susah terlanjur tertanam sejak semester awal. Kedua, minimnya influence dari pengajar/dosen yang bersangkutan. Saya pribadi sudah lama mengkhawatirkan hal ini : jangan-jangan rendahnya tingkat ketertarikan mahasiswa terhadap programming ini disebabkan karena tidak ada sosok inspiratif.

Kira-kira berapa persen dari sekian mahasiswa aktif yang mengetahui sosok seperti Uncle Bob?

Akhirnya semua peserta diskusi menyadari kondisi real ini. Menyadari bahwa kesenjangan antara industri dan akademik itu benar adanya. Kesenjangan inipun berhasil dimanfaatkan oleh beberapa pihak untuk membuat pelatihan-pelatihan programming alternatif siap kerja seperti dicoding, refactory, binar academy. Bukannya tidak mungkin, tiga tahun yang akan datang orang lebih memilih bergabung ke pelatihan programming seperti yang disebutkan daripada harus kuliah vokasi atau sarjana selama 3–4 tahun. Toh akhirnya ijasah tidak berlaku di dunia programming.

Diskusi berjalan hangat dan penuh semangat, hingga kami menyepakati satu hal bahwasanya ilmu informatika (khususnya programming) itu cakupannya sangat luas, berkembangnya sangat cepat namun wadahnya (kurikulum) terlalu kecil karena terbatas waktu, tempat dan peserta. Beruntungnya peserta berinisiatif mengutarakan beragam solusi. Ada yang mengusulkan harus belajar secara mandiri, ada pula yang berpendapat perlu banyak-banyak mengikuti seminar/acara teknologi. Beberapa mahasiswa berpendapat untuk bergabung dalam komunitas-komunitas IT khusunya programming.

note : diskusi ini real dilakukan secara spontan pada hari Kamis 21 Desember 2017 di Universitas Amikom Yogyakarta.

Coding | Writing | Sharing. Co-founder Hepicar. IG www.instagram.com/akbarul.huda