Instagram, Panggung Kecil Sandiwara Kehidupan

Arif Akbarul Huda
3 min readFeb 12, 2022

--

Pagi ini saya sengaja menikmati sensasi kulit tangan bersentuhan dengan embun pagi. Rasanya maknyesss dan segar. Sembari mengayuh sepeda menuju ke arah utara, menyaksikan kegagahan Gunung Merapi.

Dalam perjalanan, saya mengabadikan momen menarik. Mungkin tidak akan kembali terulang sama persis sepanjang waktu. Tampak sang mentari yang sedang menggliat terbit, terbias oleh air sehingga nampak seperti cermin. Matahari membelah dirinya menjadi dua.

Cermin. Kata ini yang terbesit dalam benak. Barangkali pagi ini, Malaikat sedang mengajarkan kepada saya mengenai ilmu cermin. Dalam menyikapi permasalahan sehari — hari, kita seyogyanya selalu bercermin pada diri sendiri. Bahasa lainnya adalah instropeksi. Mengutamakan pencarian kesalahan sendiri sebelum menyalahkan orang lain.

Namun nilai “bercermin” sekarang sudah bergeser. Betapa kita rasakan hingar bingar effect pada Instagram yang memungkinkan kita bercermin sambil memakai topeng. Lebih dari sekedar lucu-lucuan, topeng ini mampu mengubah citra seseorang yang berbeda seratus delapan puluh derajat dari aslinya. Instagram ataupun platform media sosial, menjadi panggung — panggung kecil sandiwara kehidupan.

persamaan matrik refleksi

Dalam konteks ilmu science, cermin merupakan refeleksi yang dapat digambar pada diagram kartesius dengan persaman y = -x. Atau dalam dunia Scopus, konsep cermin dapat diformulakan dengan operasi perkalian matrik yang dengan matrik lainnya. Persamaan ini sederhana namun implikasinya luar biasa. Sebuah photo dapat dirposes menjadi efek Flip. Bagian sebelah kiri menjadi kanan atau sebaliknya. Sekumpulan populasi data, juga dapat diberi efek flip untuk elaborasi insight — insightnya.

Sepeda kembali saya kayuh ke arah utara. Kali ini saya memandang Gunung Merapi yang nampak gagah. Menyaksikan kegagahan merapi, semakin berasa manusia kecil. Menyaksikan hamparan pasir dan lautan, semakin menegaskan manusia tak seberapa.

spektrum warna musik hasil analisis mesin spotify. sumber https://developer.spotify.com/

Semakin mendalami ilmu teknologi komputer, justru semakin tidak tahu apa — apa. Pada mulanya saya pikir membangun aplikasi seperti Spotify itu mudah. Ternyata dibalik kenyaman penikmat musik mendengarkan lagu, terdapat berbagai algoritma pengolahan data yang kompleks. Spotify mencatat setiap interaksi ratusan juta pengguna. Bersamaan dengan itu, mesin spotify dapat mengenali karakteristik setiap lagu seperti genre, mood, dan beat. Semakin kita mendalami spesifik ilmu pengolahan data, ternyata justru ada semakin banyak ilmu yang harus dipelajari.

Perjalanan gowes pagi ini menyadarkan saya. Semakin menyaksikan alam raya dan luasnya ilmu, semakin yakin manusia tak seberapa dihadapan Tuhan. Begitulah cara kerja Allahu Akbar, representasi kemesraan manusia dengan Tuhannya yang tidak bisa digantikan dengan ungkapan syair atau majas apapun.

Dalam konteks yang kritis, Kalimat Allahu Akbar bekerja untuk memompa adrenalin semangat personal disebabkan ekspresi kepasrahaan. Tidak ada daya dan kekuatan selainNya. Sehingga menjadi lebih sigap, energik dan berani melawan nafsu sendiri.

Saya jadi khawatir pemikiran saya yg satu ini salah. Teriakan — teriakan Allahu Akbar yang sering bergema di jalan atau forum tertentu justru mendegradasi kebesaran maknanya.

Tulisan ini telah dimuat Kedaulatan Rakyat

--

--