Melejitkan Potensi Diri Menembus Era Peradaban Industri 4.0

Sebagai insan pembelajar, kita tidak mungkin menunggu terjadinya perubahan sistem pendidikan yang terlanjur rumit. Kita sendiri yang harus mampu melewati ketidakpastian, menembus arus perubahan era peradaban 4.0 yang begitu cepat

Masih hangat di benak kita hingar bingar acara Ruang Guru dan Shopee di berbagai stasiun televisi. Tidak pernah sepi dari pandangan mata kita kompetisi antara dua produk pembayaran digital Ovo dan Gopay. Sebagai masyarakat yang pragmatis, tentu hal ini sangat menguntungkan. Selama diskon masih ada, saya akan menjadi pelanggan loyal produk tersebut.

Suasana heboh yang sengaja diciptakan ini mampu mengundang jutaan transaksi dengan waktu singkat. Pada konteks ini, transaksi dapat dimaknai sebagai aktivitas seperti registrasi pengguna baru, posting photo, product purchasing, goyang shopee, streaming pelajaran atau top-up saldo. Dalam perspektif teknologi, kemampuan produk digital menangani jutaan transaksi dalam waktu bersamaan dikenal dengan istilah Concurrency. Menurut Abraham Silberschatz dalam bukunya yang berjudul Operating System Concepts, Concurrency adalah kumpulan beberapa proses komputasi yang terjadi dalam waktu hampir bersamaan.

Mari kita bedah sedikit lebih detail. Dibalik kenyamanan si pengguna dalam berinteraksi dengan produk digital, terdapat sebuah proses rekayasa teknologi yang sungguh rumit. Berbagai peran seperti Quality Assurance, Frontend Programmer, Backend Programmer, Mobile Programmer, Devops Engineer hingga Product Manager bersatu padu dalam satu tim. Selain merancang dan membangun, mereka harus melakukan simulasi berbagai skenario interaksi serta memastikan server tetap menyala alias tidak down meskipun dalam kondisi ekstrim.

Serangkaian uji kelayakan produk dan optimasi dilakukan secara kontinyu sebelum merilis fitur baru. Sistem teknologi penopang utama produk digital (selanjutnya disebut sistem) diuji terlebih dahulu ketahanannya dalam kondisi dan skenario ekstrim, dalam durasi relatif lama. Mekanisme pengujian ini dikenal dengan istilah stress testing. Misalnya sistem diuji dengan kasus sejumlah lima ratus juta pengguna melakukan streaming video secara bersamaan dalam waktu tujuh jam tanpa henti. Selain itu lingkungan teknologi dirancang sedemikian rupa sehingga database utama tidak terganggu selama dilakukan berbagai proses uji kelayakan. Oleh karena itu, untuk mendukung hal tersebut lingkungan teknologi dibagi menjadi tiga yaitu (1) development untuk lingkup internal pengembang, (2) staging untuk ruang lingkup lebih luas melibatkan bagian Quality Assurance dan (3) production untuk ruang lingkup paling luas, dinikmati oleh jutaan pengguna sebenarnya.

Keseluruhan proses pembuatan perangkat lunak terangkum dalam mata kuliah Software Engineering (Rekayasa Perangkat Lunak) pada program studi Informatika Universitas Amikom Yogyakarta. Idealnya, lulusan perguruan tinggi menguasai berbagai pengetahuan dan skill yang relevan dengan kebutuhan industri. Dalam bidang perangkat lunak misalnya kemampuan logical thinking, math engineering dan menguasai beberapa skill atau tools seperti continuous integration, git, docker, elasticsearch, nosql database, bahkan konsep microservices. Sedangkan dari perspektif industri pengembang perangkat lunak, lulusan perguruan tinggi diharapkan memiliki kualitas serta kapabilitas mumpuni sehingga bisa onboarding dengan cepat dalam lingkungan kerja.

Namun kenyataannya tidak demikian, ada kesenjangan antara pengetahuan, skill kompetensi dengan kebutuhan industri. Teknologi terapan berkembang pesat, sedangkan konten perkuliahan berkembang relatif lambat atau bahkan stagnan. Tidak heran fenomena ini memantik statement kontroversial dari Menteri Pendidikan Nadiem Makarim bahwasanya gelar tidak lagi menjamin kompetensi, lulusan tidak menjamin kesiapan berkarya. Bagaimana solusinya?

Sebagai insan pembelajar, kita tidak mungkin menunggu terjadinya perubahan sistem pendidikan yang terlanjur rumit. Kita sendiri yang harus mampu melewati ketidakpastian, menembus arus perubahan era peradaban 4.0 yang begitu cepat. Hanya ada dua pilihan, lewati atau mati. Kita bisa melejitkan potensi diri menembus batas zaman dengan bermodalkan karakter berikut.
(1) Long Life Learner, kemampuan belajar secara kontinyu tanpa henti hingga membentuk pola berpikir kritis dan cerdas, jika perlu menguasai skill tertentu sesuai bidangnya.
(2) Kolaborasi dan berbagi yakni karakter suka berbagi pengetahuan, atau dalam konteks lebih luas bisa dimaknai sebagai kemampuan berkolaborasi dengan pihak lain.
(3) Integritas, yakni karakter jujur dan berkarakter kuat.
(4) Wisdom, pada puncaknya segala proses pembelajaran, pekerjaan dan pengalaman hidup akan berujung pada kedewasaan. Pada poin keempat ini, kita akan menemukan kebenaran-kebenaran atau kesesuaian berbagai kasus dengan rule of the game kehidupan yang dibuat oleh sang Pencipta, Tuhan Yang Maha Esa. Melihat cara kerja organisasi, ingat Tuhan. Melakukan perjalanan dinas, ingat Tuhan. Mendalami kompleksitas Artificial Intelligence, juga semakin ingat Tuhan. Semakin banyak melihat fenomena kehidupan, semakin menemukan Tuhan.

Karakter-karakter ini apabila dimiliki oleh Mahasiswa atau pemuda, akan berdampak luar biasa dahsyat terhadap lingkungannya, baik lingkungan belajar, bermain, bekerja atau bahkan sosial masyarakat. Sayangnya empat karakter ini barangkali tidak dijumpai pada kurikulum manampun, namun terbukti ampuh menembus berbagai zaman. Bagaimana tidak, hal ini sejatinya adalah representasi dari empat sifat teladan Rasulullah S.A.W Fathanah, Tabligh, Amanah, Siddiq yang aplikatif dalam berbagai konteks kehidupan, termasuk konteks lingkungan teknologi.

Sesungguhnya pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.

Artikel ini telah dimuat pada harian Tribunjogja pada 8 Januari 2019

Coding | Writing | Sharing. Co-founder Hepicar. IG www.instagram.com/akbarul.huda

Coding | Writing | Sharing. Co-founder Hepicar. IG www.instagram.com/akbarul.huda