To be A Superstar Programmer #1

diambil dari slide presentasi https://www.slideshare.net/akbarul/tobe-a-superstar-programmer

Keluarkan smartphone, kita searching bersama dengan kata kunci ‘lowongan programmer’. Saya minta relawan untuk membacakan syarat lowongan tsb secara bergantian“. Ajakan pemateri seminar disambut antusias seluruh peserta.

Jono, peserta yang pertama kali membacakan hasil googlingnya. “menguasai HTML5, Jquery, JAVASCRIPT”, ujar Jono. Secara bergantian lima peserta membacakan syarat untuk bergabung sebagai programmer.

Adakah yang menemukan syarat melampirkan Ijasah dan Sertifikat?”

TIDAAAKK!”. Jawab seluruh peserta secara serempak tanpa dikomando.

Saya melemparkan senyum kepada peserta. Yaa, dialog tersebut sama persis terjadi pada saat dilaksanakan seminar Jogja Software Developer Days ke 3 di Universitas Amikom Yogyakarta.

Sekilas, tatapan para peserta menunjukkan rasa penasaran yang sangat tinggi menantikan penjelasan slide berikutnya. Terpampang sebuah visualisasi gap antara kurikulum yang diajarkan di kampus dengan kebutuhan skill di Industri.

Visualisasi gap antara kurikulum akademik dengan kebutuhan di Industri perangkat lunak

Dibeberapa kampus terkenal, kurikulum matakuliah pemrograman dijabarkan sebagai berikut : Array adalah…, class adalah…, object adalah… percabangan itu … , pointer begini, list begitu, dan perulangan merupakan... . Urutan daftar-isi buku pemrograman tsb kemudian dijabarkan menjadi beberapa pertemuan. Maka ketahuilah, bahwa sebenarnya itu merupakan kurikulum zaman sebelum ada Google (pra-google-era).

Peserta semakin antusias menyimak penjelasan demi penjelasan, termasuk kali ini saya memberikan gambaran berbagai macam industri pengembangan perangkat lunak yang bercokol di tanah Yogyakarta. Mulai dari Qiscus, Gamatechno, Software Seni, Sale stock, MindTalk, Sebangsa, Gameloft, Onebit, Technoporia, namun nampaknya jauh lebih banyak yang tidak disebut. Dari tahun ke tahun berbagai perusahaan tersebut semakin kuat menancapkan kuku dengan variasai gaji mulai dari 3jt-15jt-an atau mungkin lebih.

Teman-teman sekarang semester 2, maka tiga tahun lagi pada saatnya lulus nanti mestinya perusahaan IT di Jogja semakin bertambah besar, kuat dan (mungkin) bertambah banyak. Pertanyaan saya, siapa yang ingin jadi programmer ?” Pertanyaan saya terlontar begitu saja, disambut penuh hangat oleh peserta. Hampir semua peserta mengangkat tinggi-tinggi tangannya.

Sstt! kalau mengandalkan materi dari kampus saja kira-kira bisa ndak kita menjadi programmer handal bernilai mahal?” Tanya saya dengan nada pelan, khawatir terdengar pihak kampus.

TIDAAAKK!”. Jawab seluruh peserta secara serempak tanpa dikomando untuk kedua kalinya.

Saya kembali tersenyum sambil memperlihatkan slide berikutnya berjudul 5 Tips to be a superstar programmer.

Uraian lima tips untuk menjadi superstar programmer diatas akan dijelaskan pada artikel berikutnya.

Coding | Writing | Sharing. Co-founder Hepicar. IG www.instagram.com/akbarul.huda

Coding | Writing | Sharing. Co-founder Hepicar. IG www.instagram.com/akbarul.huda