To Be A Superstar Programmer #2

4 tips mempersiapkan diri menjadi superstar programmer.

Pada artikel sebelumnya saya menyampaikan prolog mengenai adanya gap antara kebutuhan industri dengan kurikulum pemrograman. Bagi yang belum membaca, sangat saya rekomendasikan mengunjungi halaman ini terlebih dulu supaya frammingnya sejalan.

  1. Join to a community

Bargabunglah dengan komunitas programmer di lingkungan sekitar Kampus. Kebetulan saja Universitas Amikom letaknya di Yogyakarta. Kota sejuta komunitas diantaranya Padepokan Asa, JDV, GDG. Lebih spesifik di Amikom terdapat komunitas AMCC, AVC dan Fossil. Konsekuensinya kita mesti rajin menghadiri acara-acara seminar, workshop ataupun sharing session. Nah lagi-lagi di Jogja ini nggak ada matinya. Hampir tiap bulan bahkan tiap minggu selalu ada saja komunitas yang menyelenggarakan acara IT. Dengan bergabung komunitas, selain menambah relasi teman pastinya juga energi keinginan belajar akan terus terjaga.

2. Commit-push and share your project

Buatlah project kecil-kecilan. Kalau perlu setiap membuat project baru, gunakan juga teknologi Git untuk mengelola versi code buatan kita. Sekali duakali boleh kok di share ke akun sosial asal niatnya bukan pamer.

3. Non-Stop Learning

Ini nih kuncinya. Mau tidak mau, betah atau tidak sebagai programmer harus bisa mengikuti perkembangan teknologi. Satu-satunya jalan hanyalah menjaga ke-istiqomah-an semangat belajar. Minta deh sama Tuhan supaya diberi kekuatan dan kemudahan dalam belajar.

4. Be Passionate in Programming

Mudah kok melihat tanda-tanda apakah passion seseorang cocok di programming atau tidak. Kalau waktu belajar coding nemu bug, kamu cenderung mencari terus menerus sampai kebawa mimpi maka kemungkinan kamu memiliki passion programming. Sebaliknya, jika baru belajar menemukan bug langsung menyerah, maka besar kemungkinan kamu tidak betah di dunia programming.

Biasanya pada waktu belajar, kecenderungan code seseorang tidak terpola dengan baik alias ruwet. Variable dan function bertebaran dimana-mana. Scopes dan Context sebuah class bercampur aduk dengan yang lain. Atau biasanya saya menyebut dengan istilah spaghetti code. Tentunya spaghetti code banyak memberikan efek buruk dalam hal maintenace dan performa.

Pola ruwet sebuah code

Semestinya di level sarjana zaman ini (tahun 2017), belajarnya adalah tentang arsitektur dan pattern. Bukan lagi bicara tentang dasar-dasar pemrograman (yang sebenarnya bisa dipelajari sendiri melalui Internet). Kampus cukup memfasilitasi saja ekosistem dan suasana yang mendukung self study.

Tentunya untuk memperlajari arsitektur itu tidak mudah. Perlu belajar dan berpengalaman membuat berbagai project. Dan satu lagi yang sifatnya wajib, yakni membaca buku-buku dan artikel programming.
Clean Code, Domain Driven Design, Test Driven Design, Design Patterns for Dummies, SOLID Principle, Software Architechture adalah kata-kata kunci yang perlu kita pegang dan pelajari lebih dalam.

5. People Inspiring Me

Ini yang saya lakukan. Dalam konteks software engineering, saya menempatkan nama-nama seperti Uncle Bob, Robert C. Martin, Eric Evans, Steve Hotmer, James Gosling, Lary Page, Brian Acton, Kevin Systrom, Jack Dorsey, Erric Elliot sebagai orang-orang yang menginspirasi. Karena mereka banyak menularkan ilmunya, pengetahuannya, stylenya dan semangatnya.

Demikian lima tips mempersiapkan diri menjadi superstar programmer. Semoga memperkaya sudut pandang kita dalam dunia pengembangan perangkat lunak. Selamat berkayara. Sebarkan sebanyak-banyaknya apabila Anda merasakan manfaat artikel ini.

Arif Akbarul Huda,
Universitas Amikom Yogyakarta 2017.

Coding | Writing | Sharing. Co-founder Hepicar. IG www.instagram.com/akbarul.huda

Coding | Writing | Sharing. Co-founder Hepicar. IG www.instagram.com/akbarul.huda